ANALISA KUALITATIF SENYAWA ORGANIK
ANALISA KUALITATIF SENYAWA ORGANIK
A.
Dasar teori
Analisa kualitatif merupakan suatu pemeriksaan atau proses kimia yang
menguji adanya ion atau unsur-unsur dalam suatu senyawa. Senyawa organik
merupakan golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon,
kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Analisa kualitatif
senyawa-senyawa organik, umunya selalu didasari oleh reaksi oksidasi dan reaksi
reduksi. Karbon selalu dioksidasi menjadi CO2, hidrogen selalu
dioksidasi menjadi H2O, Nitrogen selalu dioksidasi menjadi N2O5
atau direduksi menjadi NH3, halogen selalu direduksi menjadi
halogenida, sulfur direduksi menjadi H2S dan dioksidasi sulfat,
posfor direduksi menjadi PH 3 dan dioksidasi menjadi pospat.
Diantara beberapa golongan senyawa organik adalah hidrokarbon aromatik,
senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene ; senyawa hidrosiklik
yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya ( Pudjaatmaka,
1982).
Ada 2 cara yang relatif sederhana
secara kualitatif dengan melihat apakah didalam suatu senyawa terdapat
nitrogen, belerang, ataupun halogen yaitu dengan menggunakan logam natrium,
sehingga nitrogen, belerang, ataupun halogen berturut-turut dapat diubah
menjadi natrium sianida, natrium sulfida, atau natrium halida (Parlan, 2003).
Analisa kualitatif merupakan suatu pemeriksaan atau analisis kimia yang
bertujuan untuk menyelidiki unsur-unsur ataupun ion-ion yang terdapat dalam
suatu zat atau campuran persenyawaan yang bertujuan untuk analisa. Analisa
kualitatif mengaju pada pangkal untuk memisahkan dan menguji adanya ion dalam
larutan. Analisa kualitatif dilakukan karena adanya jenis ion yang ada dalam
suatu campuran ( Achmadi, 1987)
B.
Cara kerja
1.
Menyiapkan sampel dalam satu pot
2.
Sampel dalam satu pot di campur
3.
Melakukan identifikasi kualitatif
·
Analisa pendahuluan
ü
Identifikasi organoleptis yang meliputi warna, bau, kelarutan
dalam asam basa dan analisa unsur.
Bau :
-
Aromatis
-
Tajam/menusuk
-
Dengan pemijaran berbau caramel : gula, as.tartat
-
Dengan pemijaran berbau merkapatan : tiourea, sulfatazol.
-
Dengan pemijaran berbau ammoniak : salisilamida,
nikotinamida, meprobromat, barbiturat.
Kelarutan dalam asam basa :
-
Kelarutan dalam 3N NaOH
Langsung : asam sulfon (yang tidak
larut dalam air), (tidak berwarna), fenol, senyawa nitro, tiazida, SG,
metiltiorazil, oksazepam, riboflavin, teobromin
Dingin, merah : fisostigmin
Dingin kuning : tiamin, niklosamida,
nitrozepam
Panas kuning : kloramfenikol,
warfarin
Panas coklat : glukosa, fruktosa,
laktosa, amilum
Membentuk ammoniak : bromisoval,
karbromal, ureum, salisilamid, nikotinamid, meprobromat, streptomisin sulfat,
SA, SG
-
Kelarutan dalam 3N H2SO4
Kinin dan kinidin (berflouresensi
biru terang )
-
Penetesan H2SO4 pekat
Alkaloida, hidrokortison, streoida :
kuning -> merah
Kuinon -> coklat
Karbohidrat, tetrasiklin : ungu.
Fenotiazin : merah
Bisokodil : ungu
Difenhidramin, kuning -> merah
jingga
Amitripilin : merah
Klotimazol : kuning
Promazin : merah muda
Analisa unsur
Untuk
mengidentifikasi adanya unsur unsur organik yang terdapat dalam suatu senyawa
dilakukan destruksi lebih dahulu untuk mengubah menjadi senyawa anorganik yang
larut dalam air. Selanjutnya dilakukan reaksi yang spesifik dengan menambahkan
pereaksi kimia yang sesuai. Umumnya dilakukan dengan 2 cara yaitu : metode
Lassaigne dan metode Middleton.
Cara
Lassaigne : masukkan kira kira 20 mg zat kedalam tabung reaksi yang bersih dan
kering, masukkan juga sepotong kecil logam Natrium yang telah dibersihkan dan
dikeringkan. Panaskan campuran sampai melebur sempurna. Tambahkan sedikit zat
lagi, panaskan tabung sampai membara dan segera masukkan ke dalam 15 ml air
dalam cawan porselen. Cairan dipindahkan ke erlenmeyer dan didihkan selama 5
menit , kemudian saring. Filtat di tampung dalam tabung reaksi dan selanjutnya
digunakan untuk identifikasi unsur dari zat yang dianalisis.
Cara
Middleton : gerus 25 g Na2CO3 anhidrat dan 50 mg serbuk seng ( pereaksi). 100
mg sampel ditambah pereaksi kira kira 1 g, campur homogen lalu panaskan dengan
api kecil dahulu, lalu besarkan sampai campuran merah membara. kemudian saring.
Filtat di tampung dalam tabung reaksi dan selanjutnya digunakan untuk
identifikasi unsur dari zat yang dianalisis.
Pada
pemanasan unsur unsur akan berubah sbb:
C,S -> NaCN
C, N, S -> NaCNS
S -> Na2S
X(halogen) -> NaX
1.
Unsur Nitrogen :
Filtrat
lassaigne/middleton + 2 tetes lar. Jenuh FeSO4 lalu didihkan(1
menit), dinginkan dan asamkan dengan H2SO4 encer
Positif :
terbentuk warna biru berlin.
2.
Unsur Sulfur :
Filtrat
lassaigne/middleton + 2 tetes as. Asetat encer, lalu ditutup (pada mulut
tabung) dengan kertas saring yang dibasahi timbal asetat.
Positif :
jika terbentuk warna hitam.
3.
Unsur Nitrogen dan Sulfur :
Filtrat
lassaigne/middleton + HCl encer + 2 tetes lar. AgNO3.
Positif :
terbentuk warna merah darah.
4.
Halogen :
Filtrat
lassaigne/middleton+ HNO3 encer + beberapa tetes lar.AgNO3
Positif :
endapan putih atau kuning.
a.
Unsur iodium :
Filtrat lassaigne/middleton +
as.asetat encer, didihkan, lalu dinginkan +CCl4
Positif : warna violet pada lapisan
organik
b.
Unsur brom :
Lapisan air dari 4.a didihkan, lalu
dinginkan + serbuk PbO2, dengan keadaan ditutupi kertas saring(sudah
ditetesi lar. Flouresein) pada mulut tabunng, didihkan.
Positif : kertas saring menjadi merah
muda.
c.
Unsur Klor :
Lapisan air dari 4.a + lar HNO3
pekat + lar.NH4 molibdat, panaskan
Positif : terbentuk endapan kuning.
a.
Cara Middleton
Hitam
·
Unsur Nitrogen
Biru
berlin
·
Unsur Sulfur
Hitam
·
Unsur Nitrogen dan
Sulfur
Fe(CNS)63-
·
Halogen
Putih/kuning
a. Unsur Iodium
b.
Unsur Brom
c. Unsur klor
Putih
Larut
Reaksi
Khusus Golongan Senyawa Organik
1. Senyawa
mengandung nitrogen
Ø Pemeriksaan
nitrat
FeSO4 dan H2SO4
p → cincin coklat
Ø Pemeriksaan
nitro aromatik
Diazo 1 : 10% NaNO2
dalam air
Diazo 11 : 0,25 g 2 Naftol dalam 100 ml 3N NaOH
Ø Pemeriksaan
senyawa amin (basa)
Zat + H2SO4
+ pereaksi Mayer → endapan, bermacam
warna
Ex : Morfin & Ephedrin → sedikit
endapan / warna
P. Mayer : HgCl2 dalam
larutan KI 5 %
Ø Pemeriksaan
amin alifatik primer
Zat dalam etanol + CS2 → + HgCl2 5%
→ Bau spesifik
Ø Pemeriksaan
amin aromatic primer (r. Diazo )
Zat + HCl + Diazo I→ Diazo II → merah jingga/endapan
Ex: Benzokain, Sulfonamida,
Klordiazepoksid, Furosemid, Hidroklorotiazid, Oksazepam, Fenasetin
Ø Pemeriksaan
amin sekunder
HCl
Eter diuapkan → residu
Ø Pemeriksaan
asam amino (R. Ninhidrin)
Larutan zat netral
+ larutkan ninhidrin 1% → merah,
ungu, biru
Ex : Ephedrin (merah ), Tolbutamid
(ungu), Antazolin (ungu), As. Askorbat (merah tua).
Ø Pemeriksaan
golongan guanidin
Zat + NaOH 10% + 1 Naftol 0,05%, 150 C + Na hipobromid → ungu merah
Ex :Streptomisin
Ø Pemeriksaan
turunan piridin
Zat + NaCO3 kering → bau piridin
Zat
+ 1 klor 2,4 dinitrobenzol +
0,5N KOH /etanol → merah tua
Ex: nikotinamid
2. Senyawa
pereduksi
Ø R.
Fehling I.
CuSO4 7%
II. K Na Tartrat + NaOH
Merah bata
Ex : Vit. C,
INH, Hidrokartison, gula pereduksi
Ø Percobaan
dengan KMnO4
Dalam larutan netral atau asam
Larutan zat + KMnO4 0,1 % → warna hilang → coklat (suhu kamar)
Ex : Vit. C , INH
Pada pemanasan hilang
Ex
: as.Sitrat, tartrat, oksalat, mandelat, salisilat, benzoat gula pereduksi,
sorbitol
3. Reaksi
iodoform
Zat + 3N NaOH + larutan Iod → bau iodoform
Ex : Aceton, Etanol, Isopropanol, Asam laktat,
Benzokain
4.
Reaksi dengan fecl3
Ex: Acetosal, Vitamin C, Fenazon,
Klorpromasin, Nipagin, Piridoksin, Tetrasiklin, Prometazin, As. Mefenamat.
Analisis gugus fungsi
Analisis
gugus fungsi bertujuan untuk mendeteksi adanya gugus fungsional dalam senyawa
obat. Gugus fungsi adalah kumpulan atom-atom yang berikatan dan akan
mnnyebabkan sifat fisiko kimia yang spesifik terhadap zat tersebut, misalnya
kelarutan, keasaman dan lain-lain. analisis gugus fungsi dapat dilakukan dengan
metode kimia dan metoda fisiko kimia. Metode kimia yang dilakukan berdasarkan
reaksi antara gugus fungsi dalam senyawa dengan suatu pereaksi kimia. Hasil
reaksinya dapat berupa terjadinya warna, bau, endapan. Suatu pereaksi kimia ada
yang memberikan reaksi positif terhadap beberapa gugus fungsi (bersifat umum),
ada yang bereaksi hanya dengan satu gugus fungsi (spesifik). Metoda kimia ini
dikenal dengan nama “ uji tetes” atau “ spot test” dilakukan dalam tabung reaksi atau papan penetes.
1.
Gugus Alkohol (R-OH)
a. Uji
seri amonium nitrat
2ROH + (NH3)2 Ce(NO3)6
[Ce(NO3)4(ROH)2]
+ 2NH4OH MERAH
b. Uji
Kromat (K2Cr2O7 dalam H2SO4)
3RCH2OH + 6CrO3
3RCOOH + 2Cr3(SO4)2
+ 9H2O
Hijau
3RCHOH + 3CrO3
RCC=O + Cr3(SO4)2 +
6H2O
c. Uji
esterifikasi
ROH + R’COOH
R’COOR + H2O
As. Sal. Ester
d. Uji
oksidasi
Bakar kawat tembaga yang telah
dibakar sampai memijar lalu celupkan ke dalam 10 tetes sampel. Lalu lakukan
perlakuan ini berkali-kali (sedikitnya 5 kali). Tercium bau khas. Ambil 2 tetes
cairan lalu teteskan pereaksi Schiff, terbentuk warna merah ungu (menandakan
alkohol primer). Ambil lagi 2 tetes cairan tadi lalu tambahkan 1 tetes pereaksi
Na nitroprusida dan 1 tetes NH4OH, terbentuk warna merah violet
(menandakan alkohol primer).
e. Uji
lukas
Pereaksi Lucas = ZnCl2
anhidrat + HCl Pekat
Alkohol
Tersier keruh
(cepat)
Alkohol
Sekunder
2.
Gugus Fenol (Ar-OH)
a. Uji
besi (III) klorida
Tambahkan 1-2 tetes FeCl3
ke dalam 2 tetes sampel (larutan dalam air atau metanol). Terbentuk warna yang
khas.
b. Uji
Lieberman
Larutkan 1 ml sampel (2 tetes)
dalam 1 ml H2SO4 p lalu tambahkan beberapa butir NaNo2
terbentuk warna biru hijau atau biru ungu. Encerkan denagn air lalu tambahkan 1
tetes NaOH 5%, terbentuk larutan warna merah.
c. Uji
Ftalin
Panaskan 200 mg sampel (10 tetes) dan
10 mg ftalat anhidrat dengan 2 tetes H2SO4 p dalam tabung
reaksi hingga agak kering. Dinginkan dan tuangkan isi tabung ke dalam 5 ml
larutan NaOH 5%, terbentuk larutan berwarna.
d. Uji
penggabungan dengan garam Diazo
Ambil 4 tetes larutan asam
sulfanilat dan 1 tetes larutan NaNO2 lalu tambahkan 2 tetes sampel
dan 1 tetes larutan NaOH, terbentuk warna merah.
3.
Gugus Karbonil (RCOH
atau R2C=O)
a. Uji
pembentukan hidrazon
Ambil 10 tetes sampel (aldehid atau
keton) tambahkan pereaksi 2,4-dinitrofenilhidrason dan 2 tetes HCl pekat,
terbentuk endapan jingga coklat.
b. Uji
Schiff
Ambil 5 tetes sampel lalu tambahkan
2 tetes HCl encer dan 2 tetes pereaksi Schiff. Terbentuk warna merah violet
(untuk aldehid).
c. Uji
Legal Rotera
Ambil 5 tetes, tambahkan 2 tetes
larutan Na-nitroprusida dan 1 tetes NH4OH, terbentuk warna merah
ungu (untuk keton).
d. Uji
Iodoform
Ambil 10 tetes sampel tambahkan 2
ml NaOH 3 n dan beberapa tetes air iod sampai warna coklat. Panaskan : tercium
bau yang khas dan terbentuk endapan kuning (untuk gugus CH3CO-).
4.
Gugus Karboksil (-COOH)
a. Uji
kertas lakmus
Pada 10 tetes sampel (100 mg zat
dalam 1 ml air), celupkan kertas lakmus biru. Terjadi perubahan warna
merah (untuk senyawa asam).
b. Uji
Bikarbonat
Pada 100 mg zat dalam tabung
reaksi, tambahkan 1 ml larutan NaHCO3 5% terbentuk gelembung
udarayang dapat mengendapkan air kapur.
c. Uji
esterifikasi
Pada 100 mg sampel tambahkan 5
tetes etanol atau metanol dam 1 ml H2SO4 p panaskan lalu
dinginkan. Encerkan dengan air. Tercium bau ester yang khas.
5.
Gugus Ester (-COOR)
a. Uji
Fenolftalein
Larutkan 2 tetes sampel dalam 1 ml
etanol dan tambahkan 2 tetes indikator fenolftalein dan 2 tetes NaOH 5%. Jika
pada pemanasan larutan merah muda hilang berarti terdapat ester.
b. Uji
Asam hidroksamat
Pada 10 tetes sampel dalam tabung
reaksi tambahkan 1 ml larutan hidroksilamin HCL (dalam etanol). Tambahkan 2 ml
NaOH 5% lalu panaskan hingga mendidih dan dinginkan. Asamkan dengan HCl lalu
tambahkan 2 tetes FeCl3 terbentuk warna merah violet.
6.
Gugus Amina (-NH2)
a. Uji
Diazotasi dan penggabungan
Larutkan 10 mg sampel dalam 1 ml
HCl p lalu tambahkan 4 tetes larutan NaNO2 dan 2 tetes larutan beta
naptol dalam NaOH. Terbentuk warna merah atau jingga.
![]() |
b. Uji
p-DAB HCl
Larutkan 10 mg zat dalam 1 ml HCl
encer, tambahkan 2 teets p-DAB HCl, terbentuk endapan kuning sampai jingga.
c. Uji
Korek Api
Larutkan 10 mg zat dalam 2 tetes
HCl p masukkan batang korek api : batang korek api berwarna kuning jingga.
d. Uji
karbilamin
Larutkan 10 mg zat dalam 1 ml
etanol dan 2 ml larutan NaOH 5%, tambahkan 2 tetes CHCl3 lalu
panaskan, tercium bau isonitril (awas racun kuat).
7.
Gugus Amida (-CONH2)
a. Uji
pelepasan NH3
Panaskan campuran 100 mg zat dalam
1 ml larutan NaOH 10%. Pada ujung tabung reaksi tempatkan kertas lakmus merah
basah. Kertas lakmus merah berubah warna menjadi biru dan tercium bau amoniak.
b. Uji
Asam Hidroksamat
Panaskan campuran 50 mg sampel
dengan 1 ml larutan hidroksolamin HCL dan 1 ml larutan NaOH 1 N sampai
mendidih. Aamkan dengan HCl encer lalu tambahkan 2 tetes larutan FeCL3
: terbentuk warna mera violet.
8.
Gugus Nitro (-NO2)
a. Uji
besi (II) hidroksida
Pada 20 mg sampel campurkan dengan
1 ml larutan besi (II) ammonium sulfat (segar). Tambahkan 1 tetes H2SO4
2N dan 1 ml larutan larutan NaOH 1 N (dalam metanol). Kocok,
terbentuk endapan coklat.
b. Uji
reduksi menjadi Amin
Larutakn 50 mg zat dalam HCl p lalu
tambahkam bubuk seng panaskan hingga mendidih. Saring larutan dan tampung
filtrat dalam tabung. Uji filtrat terhadap senyawa amin yang dihasilkan.
9.
Senyawa tak jenuh
a. Uji
Adisi Brom
Larutkan 2 tetes sampel dalam 1 ml
CCL4 atau asam asetat, lalu tambahkan 2 tetes larutan jenuh brom.
Terjadi perubahan warna dari coklat menjadi pucat atau jernih.
b. Uji
Baeyer
Larutkan 2 tetes sampel dalam 1 ml
air atau aseton lalu teteskan KMnO4 2%, kocok: warna ungu KMnO4
menjadi hilang dan terbentuk endapan mangan oksida.
Identifikasi
Anion Organik
1.
Asetat
-2CH3COOM+(COOH)2 → 2CH3COOH
+ (COOM)2
↑
Garam as.oksalat bau
-Garam asetat dalam HNO3 + FeCl3 → merah
-3FeCl3 + 7CH3COOH +3H2O→
[Fe3(CH3COO)6OH2] CH3COO
+ 9HCl
Merah
3H2O + 3FeX3 + 7CH3COOH
+ HX
Merah Hilang (asam
mineral)
2. Oksalat

-(COO-)2
+ Ca 2+ → (COO2)Ca + 2HCl
(COOH)2 +
CaCl2+HCl putih
Kristal
Larut
-5(COO-2) + MnO4- + 16H+
→ 2Mn2+ +10CO2
+8H2O
Ungu Tak
Berwarna
3.
Tartrat
COOH
As.tartrat
COOH –CO
As.tartrat -H2O
4.
Benzoat
-2C6H5COOM + H2SO4 → 2C6H5-COOH
+ M2SO4
-Zat + alcohol + H2SO4 P → etil benzoate + H2O (bau spesifik)
5.
Sitrat
Putih

6.
Laktat
-senyawa laktat + air + H2SO4 + Larutan guiakol
dikocok → warna merah
7.
Salisilat
-senyawa
salisilat +FeCl3 → violet +
as.asetat → warna tetap
-senyawa
salisilat+methanol+ H2SO4 P → Metil salisilat (bau gondopuro)
C. HASIL
|
Seny. unsur
|
Golongan senyawa
|
Gugus fungsi
|
Anion organic
|
|
N
|
Seny.
Amin
|
Gugus
karbonil
|
Fenol
|
|
S
|
Amin
aromatic primer
|
Gugus
karboksil
|
|
|
Cl
|
Seny
pereduksi dg (KMnO4)
|
|
|
D. PEMBAHASAN
·
Senyawa unsur :
Unsur
N : Pada saat pendidihan larutan ion Fe3+ terbentuk akibat oksidasi Fe2+
oleh oksigen dari udara. Keduanya larut dalam asam sulfat. Besi sianida
bereaksi dengan ion Fe3+ membentik biru berlin (feri ferosianida).
CH3NH2
+ HCl encer -> CH3NH3+Cl-
Halogen
Cl
–
Cl- + H2SO4
à
HCl ↑ + H2SO4-
Br
–
KBr + H2SO4
à
HBr ↑ + H2SO4 – + K +
2KBr + 2H2SO4
à
Br2 ↑ + SO2↑ + SO42- + 2K+
+ 2H2O
I
–
I – + H3PO4
à
HI ↑ + H2PO4 –
- senyawa
mengandung nitrogen: nitrat
Nitrit
Nitro
Amin
primer
Amin
sekunder
Amin
tersier
Amonium
kuartener
Amin
aromatik
Asam
amida
Asam
amino
R R
Suatu protein
asam-asam amino
R R
H R
R
senyawa pereduksi
-
reaksi iodoform

Sikloheksil ion sikloheksil-
iodoform metil
keton karboksilat kristal kuning
- analisis gugus fungsi:
O OH
(2) H2O,
H+ R
Gugus
fenol
![]() |
|||
![]() |
|||

metil fenil
eter fenol iodometana
(anisola)
Gugus karbonil
Gugus
karboksil
Suatu
alkohol primer suatu asam karboksilat
Gugus
ester
Gugus amina
Gugus amida
N,N-dimetilpropanamida asam propanoat ion dimetilamonium
Senyawa
tak jenuh
Br Br
2-butena merah 2,3-dibromobutana
Tak
berwarna
- anion organik:
Asetat
CH3COO –
+ H+ à
CH3COOH ↑
Oksalat
(COOH)2
à
H2O + CO ↑ + CO2 ↑
(COO)22-
+ MnO2 + 4H+ àMn2+
+ 2CO2 ↑ + 2H2O
Tartrat
H2. C4H4O6
à
CO ↑ + CO2 ↑ + 2C + 3H2O ↑
C + 2H2SO4
à
2SO2 ↑ + CO2 ↑ + 2H2O↑
Benzoat
C6H5COO
– + H+ à
C6H5COOH ↓
Sitrat
HOOC.CH2.C(OH)CO2H.CH2.COOH
à
à
CO↑ + H2O↑ + HOOC.CH2.CO.CH2.COOH(I);
HOOC.CH2.CO.CH2.COOH
à
à
CH3.CO.CH3↑ (II) + 2CO2 ↑
Salisilat
C6H4(OH)COO
– + Ag+ à
C6H4(OH)COOAg ↓
·
Melakukan reaksi khusus golongan senyawa organik
1.
Pemeriksaan nitrat
2.
Pemeriksaan nitro aromatik
Diazo I : 10% NaNo2 dalam air
Diazo II : 0,25 g 2 Naftol dalam 100 ml 3N NaOH
3.
Pemeriksaan senyawa amin (basa)
4.
Pemeriksaan amin aromatic primer
5.
Pemeriksaan amin sekunder
6.
Pemeriksaan asam amino
7.
Pemeriksaan senyawa pereduksi
-
Reaksi fehling
-
Dengan KMnO4
Pada pemanasan hilang
8.
Reaksi dengan iodoform
Ø Gugus
karbonil (RCOH atau R2C=O)
Uji Schiff
5 tetes sampel + 2
tetes HCl encer + 2 tetes pereaksi Schiff. Terbentuk warna merah violet (untuk
aldehid).
Pada sampel menunjukkan
hasil positif (+) adanya gugus karbonil untuk aldehid, dikarenakan pada uji
legal rotera didapatkan hasil yang negatif (-). Pada hasil uji Schiff ini
didukung dengan adanya blanko (+) yang telah dibuat oleh praktikan, sehingga
dapat dipastikan bahwa sampel memiliki
gugus karbonil.
Ø Gugus
karboksil (-COOH)
Uji kertas lakmus
10 tetes sampel (100mg
zat dalam 1 ml air) à
celupkan kertas lakmus biru.
Setelah kertas lakmus
tercelup, warna lakmus berubah dari biru à
merah.
Perubahan kertas lakmus
ini menunjukkan adanya gugus karboksil pada sampel yang diberikan.
IDENTIFIKASI
ANION ORGANIK
Benzoat
-2C6H5COOM + H2SO4
→ 2C6H5-COOH + M2SO4
-Zat + alcohol + H2SO4 P → etil benzoate + H2O (bau spesifik)
7.
Salisilat
-senyawa
salisilat +FeCl3 → violet +
as.asetat → warna tetap
-senyawa
salisilat+methanol+ H2SO4 P → Metil salisilat (bau gondopuro)
E. KESIMPULAN
Dari
hasil praktikum yang didapatkan :
Diduga
sampel yang dianalisa adalah Difenhidramin, karena warna asalnya kuning ketika
ditetesi H2SO4 pekat menjadi berwarna merah pada analisa pendahuluan.
Selain
itu pada analisisa berikutnya didapatkan hasil :
|
Seny. unsur
|
Golongan seny.organik
|
Gugus fungsi
|
Anion organic
|
|
N
|
Seny.
Amin(basa)
|
Gugus
karbonil
|
Fenol
|
|
S
|
Amin
aromatic primer
|
Gugus
karboksil
|
|
|
Cl
|
Seny
pereduksi dg (KMnO4)
|
|
|
F. DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Suminar, 1987, Kimia Dasar, terjemahan dari General Chemistri, oleh Petrucci,
Erlangga, Jakarta.
Pudjaatmaka, 1982, Kimia
Organik, terjemahan dari Organik
Chemistri. Oleh Fessenden, Erlangga, Jakarta.
Parlan , 2003, Kimia Organik jilid I, JICA, Bandung



Comments
Post a Comment